PERILAKU TERCELA

Standard

A.      ANANIAH

1.    Pengertian Ananiah

              Ananiah berasal dari bahasa arab yaitu kata “ana” yang berarti “saya”. Adapun yang dimaksud dengan ananiah adalah sikap mementingkan diri sendiri. Ananiah dapat pula diartikan sebagai egoisme atau ingin menang sendiri.

orang egois selalu memntingkan dirinya sendiri dan jarang memedulikan pendapat orang lain

Sikap ananiah sangat tidak pantas dimiliki oleh manusia karena bertentangan dengan naluri manusia itu sendiri akan tetapi, kenyataannya didunia ini masih saja ada orang yang memiliki sikap ananiah. Mereka tidak peduli terhadap orang lain bahkan orang lain dianggapnya hilang  dalam kehidupannya. sifat ini juga sangat merugikan orang baikdirinya sendiri maupun orang yang didekatnya seperti bersahabat, biasanya harus saling mengerti akan tetapi salah satunya itu egois dan yang lainnya itu takut menegurnya hanya berani ngomong dibelakang, lalu timbul masalah dan sahabat itu hancur menjadi bermusuhan secara intinya karena egois kita tidak memiliki teman, orang akan benci sama kita dan bahkan mungkin bisa membuat silahturahmi  putus. Karena itulah Islam melarang umatnya memiliki sifat dan perilaku ananiah. Islam menganjurkan untuk saling peduli dan tolong menolong antara sesama.

2.   Contoh-Contoh Perilaku Ananiah

  1. Tidak peduli terhadap penderitaan orang lain
  2. Tidak mau membantu orang yang ditimpa kesusahan
  3. Serlalu ingin menang sendiri
  4. Merasa diri paling memiliki kelebihan
  5. Angkuh, sombong, dan tidak mau bergaul dengan orang yang lebih rendah dari dirinya
  6. Menganggap lemah dan remeh terhadap orang lain
  7. Tidak mau menerima masukkan, saran, kritik, dan nasihat dari orang lain

3.    Menghindari perilaku Ananiah dalam kehidupan sehari – hari

          Setiap muslim harus mampu menghindari perilaku Ananiah karena Ananiah adalah sikap tidak terpuji, dapat mendatangkan marabahayadan petaka bagi diri sendiri maupun orang lain.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk dapat menghindari perilaku ananiah dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :

  1. Tanamkan keimanan yang kuat agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu setan yang selalu berusaha menjerumuskan manusia ke jurang kesalahan dan dosa
  2. Perbanyak membaca dan belajar berbagai ilmu pengetahuan yang di miliki, serta kurangnya pergaulan pelaku dengan sesamanya.
  3. Perbanyak bergaul dengan orang-orang yang bijak, banyak ilmunya, mulia akhlaknya, serta taat beribadah, sehingga kelak dapat meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Hindari pergaulan dengan mereka yang memiliki sikap egois, suka mementingkan diri sendiri, dan tidak memiliki ilmu yang cukup.
  5. Mulailah menghindari sikap ananiah sejak sekarang.

B.         GADAB

 

1.           Pengertian Gadab

Menurut bahasa, gadab berarti marah, murka, benci, dan mengutuk. Adapun menurut  istilah, gadab ialah sikap murka atau benci kepada orang lain.sikap membenci orang lain tampa alasan yang jelas merupakan salah satu sifat tercela . dalam ajaran islam, kita dianjurkan agar membenci dan mencintai seseorang itu hanya karena Allah. Artinya,tidak boleh membenci seseorang hanya karena alasan pribadi,keluarga,golongan,dan sebagainya.agama islam melarang umatnya berlaku tidak adil kepada orang lain karena membencinya. Maksud membenci seseorang karna Allah SWT, yaitu membenci seseorang yang tidak taat kepada agama islam oleh karena itu, jika orang tersebut telah bertobat dan taat kepada perintah dan larangannya

Pada dasarnya semua orang memiliki sifat marah tapi ada yang bisa mengendalikannya dan ada yang tidak. Sifat gadab atau marah merupakan sifat umum pada manusia bahkan para nabi dan rasul pernah melakukan sifat gadab. Namun demikian sifat gadab itu hendaknya dapat dikendalikan dengan baik agar tidak membawa kesesatan. Gadab termasuk pada nafsu amarah yang umumnya selalu mendorong pada kejahatn dan keburukan.

Artinya :

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S. Yusuf  (12) : 53)

Berdasarkan ayat diatas sifat gadab pada manusia terbagi menjadi 2 macam, yaitu :

  1. Gadab atau benci kepada allah
  2. Gadab karena nabsu atau setan

Gadab karena nafsu adalah  amrah yang di timbulkan  oleh  bujuk rayu setan.kita sudah mengetahui dengan baik  bahwa setan adalah  musuh manusia yang paling nyata.setan dilahirkan ke muka bumi untuk menggoda umat manusia agar tidak taat kepada allah swt dan rasulnya. Oleh sebab itu ,ia menyudup ke dalam hati manusia untuk menggodanya agar mau melakukan kerusakan dan  kekacauan dengan amarahnya.

 

2.    Contoh-contoh perilaku gadab

Sifat gadab akan  tampak dari sikap perilaku  pemiliknya, yakni sikap perilaku  tercela yang  dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri.contoh sikap perilaku gadab yang tampak dalam diri manusia, antara lain :

a.   perbuatanya tidak sesuai dengan akal sehat

b.   cenderung menempuh jalan yang sesat

c.    tidak mau menerima nasihat

 

3.     menghindari sikap gadab dalam kehidupan sehari-hari

  1. Hindari perbuatan yang menimbulkan amarah
  2. Jika sedang dikuasai amarah, hendaknya segera berwudhu, sebab amarah itu datangnya dari setan, dan setan itu terbuat dari api.
  3. Dekatkan diri kepada Allah SWT. Agar terhindar dari godaan setan yang selalu berusaha membujuk manusia berbuat durhaka.
  4. Tanamkan keyakinan bahwa setan itu adalah musuh manusia yang  nyata.
  5. Pahami dengan baik bahwa amarah itu muncul karena adanya godaan  setan. Oleh karena itu, jika sedang marah, segeralah membaca istigfar.
  6. Tanamkan keyakinan bahwa sifat amarah hanya dapat m,endatangkan  celaka dan kerugian.
  7. Mulailah membiasakan diri menghindaqri sifat gadab dari hal-hal yang peling ringan, kemudian ditingkakan ke hal-hal yang lebih berat.
  8. Berdo’alah kepada Allah SWT. Agar diberi kekuatan untuk mebiasakan diri menghindari perilaku gadab.

HASAD

1.   Pengertian Hasad

iri

Merasa tidak percaya diri dan tidak suka jika orang lain mendapatkan hal yang lebih bagus

      Menurut bahasa, hasad artinya iri atau tidak suka. Menurut istilah, hisad ialah sifat iri atau tidak suka kepada orang lain yang sedang mendapatkan nikmat Allah, baik berupa prestasi maupun materi kekayaan. Sifat ini muncul dari keinginan yang berlebihan terhadap apa yang diraih oleh orang lain sedangkan jalan untuk meraih hal itu tertutup karena tidak mempunyai kemampuan atau malas untuk berusaha agar dapt meraihnya.

Perbuatan ini dapat merusak amal ibadah orang yang melakukannya. Pahala ibadah lain yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun  akan musnah oleh sikap perbuatan hasad yang dimilikinya.

Haramnya Hasad telah ditetapkan dalam al-Qur’an.yang merupakan sifat-sifat orang kafir, munafik dan lemah imannya, sifat orang yang tidak ingin berterima kasih terhadap saudaranya seagama yang telah mendapat nikmat dari Allah.

Allah berfirman :

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ…..

Artinya :

“Sebagaimana besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu pada kekafiran setelah kamu beriman karenah dengki yang timbul dari mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenarannya.”

Lalu ,Di dalam kitab Riyald as-Shalihin karya Imam an-nawawi terdapat hadis Nabi tentang larangan dengki yang berbunyi:

عن ابى هريرة رضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطاب اوقال العشب (رياض الصالحين- الامام النواوي)

Artinya :

“Dari Abu hurairah r.a, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: ”jauhilah dirimu dari perbuatan hasud, sebab perbuatan hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar “atau beliau berkata “memakan rumput.”

Hadist dan firman di atas mengandung 2 pesan penting, yaitu :

  1. Kita harus menghindari sifat hasad, kapan dimanapun kita berada
  2. Sifat hasad dapat menghancurkan amal ibadah kita sebagaiman api melalap kayu bakar.

2.            Contoh-contoh  perilaku hasad

  1.  Perilaku iri dan dengki
  2. Perilaku suka mencari-cari kesalahan orang lain
  3. Perilaku suka melempar kesalahan kepada orang lain ( berburuk sangka)

3.         Menghindari perilaku Gadab dalam kehidupan sehari – hari

  1. Tanamkan keimanan yang kuat didalam hati agar tidak mudah tergoda    oleh bujuk rayu setan yang mendorong untuk berbuat hasad
  2. Taamkan keyakinan didalam hati bahwa perbuatan hasad, selain tercela juga menimbulkan akibat buruk bagi orang lain
  3. Tanamkan keyakinan bahwa perilaku hasad tidak akan mendatangkan    keuntungan sedikitpun bagi pelakunya, bhkan sebaliknya akan  mendatangkan malapetaka dan bencana yang besar bagi kehidupannya.
  4. Tanamkan sikap kebersamaan dan kekeluargaan kepada siapapun,  sehingga kita akan merasa bangga dengan kenikmatan yang diterima oleh saudara sendiri.
  5. Pahami dengan baik bahwa perilaku hasad itu dilarang oleh agama, tidak  disukai olwh sesama, dan mendatangkan banyak musuh
  6. Mulailah menghindari sikap perilaku hasad mulai sekarang agar kelak menjadi orang yang berjiwa besar dan berhati bersih.

 

Gibah

1.                 Pengertian Gibah

menggunjing

menggunjing perilaku yang biasanya tidak lepas dari perempuan

             Gibah atau mengunjing adalah suatu tindakan membicarakan aib atau kekurangan orang lain, tanpa diketahi oleh orang yang sedang dibicarakan itu. Dalam pergaulan sehari-hari, kemudian berkumpul dan beristirahat bersama teman-teman. Tanpa disadari terlepaslah pembicaraan-pembicaraan yang menyangkut aib atau kekurangan orang lain. Perbuatan yang demikian itulah yang disebut gibah atau menggunjing.

Adapun hadits yang berbicara tentang Ghibah atau bahaya lisan sangat banyak dijumpai dalam kitab-kitab hadits berikut;

  حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

Artinya :

Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata benar atau diam”.­(HR.Bukhari-Muslim)

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

Artinya :

wahai sekalian yang beriman dilidahnya dan belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya, niscaya Allah akan mencari aibnya, niscaya Dia akan membuka kejelekannya meskipun berda dalam rumahnya”. (HR. Abu Daud, Ahmad dan Ibn Hibban).

   حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Artinya :

Iman seorang hamba tidak istiqomah sebelum hatinya istiqomah, dan hatinya tidak istiqomah sebelum lidahnya istiqomah.”(HR. Ahmad)

  حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ سَمِعَ أَبَا حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Artinya :

Siapa yang menjamin bagiku apa diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa diantara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga.”(HR. al-Bukhari, Tirmudzi, dan Ahmad)

Dosa yang akan ditanggung jika gunjingan kita telah sampai kepada orang yang bersangkutan dan ia tidak memberi maaf diriwayatkan Abu Hurairah , Nabi saw, beliau bersabda:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Artinya :

Siapa yang melakukan suatu kedzoliman terhadap saudaranya, harta atau kehormatannya, maka hendaklah ia menemuainya dan meminta maaf kepadanya dari dosa ghibah itu, sebelum dia dihukum, sementara dia tidak memepunyai dirham atau pun dinar. Jika dia memilki kebaikan, maka kebaikan-kebaikan itu akan diambil lalu diberikan pada saudarnya itu. Dan jika tidak, maka sebagian keburukan-keburukan saudaranya itu diambil dan diberikan padanya”. (HR. Bukhari)

2.                 Contoh-contoh perilaku gibah

  1. Perilaku membicarakan kelemahan dan aib orang lain
  2. Perilaku memberitahu orang lain tentang kekurangan atau kecacatan  seseorang
  3. Perilaku merasa puas telah mengemukakan keburukan orang lain terhadap  banyak orang
  4. Perilaku tidak pernah mengoreksi atau memperbaiki diri sendiri dan selalu   mengintip kesalahan atau kekurangan orang lain
  5. Perilaku tidak suka jika orang lain berbuat benar atau memiliki kelebihan.

3.                 Menghindari perilaku gibah dalam kehidupan sehari-hari

  1. Tanamkan keimanan yang kuat  di dalam hati agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu setan yang selalu menjerumuskan manusia ke jurang dosa
  2. Hindari pergaulan dengan orang-orang yang suka bergosip atau  mengunjing , sebab  kamu juga akan terbawa arus perbuatan mereka.
  3. Selalu menggunakan etika dalam berbicara sehingga tidak membuat orang  lain tersinggung harga dirinya, sebab lidah lebih menyakitkan daripada   pedang yang tajam
  4. Berbicaralah sesuai waktu dan tempatnya sehingga tidak membuang energy percuma
  5. Gunakan waktu luang dengan aktivitas yang positif dang mengandungmanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, sehingga tidak terjerumus pada perbuatan menggunjing
  6. Jika menemukan orang-orang yang sedang menggunjing, hendaknya  kamu tinggalkan dan jika perlu mengingatkan mereka agar tidak menggunjing
  7. Mulailah daeri sekarang menghindari sikap perilaku menggunjing agar terhindar dari malapetaka pergaulan dengan sesama.

NAMIMAH

1.                 Pengertian Namimah

fitnah

fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, fitnah sangat merugikan selain mendapat dausa akan dikucilkan masyarakat juga

Menurut bahasa, namimah artinya fitnah atau adu domba. Adapun menurut istilah, namimah ialah menyebar berita dusta dengan tujuan agar terjadi perpecahan dan permusuhan diantara kedua belah pihak. Namimah lebih tepat diartikan dengan perbuatan provokasi. Orangnya disebut provokator. Provokasi adalah sikap perbuatan menyebarkan isu atau fitnah kepada orang lain dengan tujuan agar terjadi permusuhan diantara merekaoleh karena itu bahaya fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Semua orang pada dasarnya ingin hidup dengan tenang, aman, nyaman, rukun, damai, dan sejahtera. Semua orang juga berusaha agar hidupnya terhidar dari malapetaka, huruhara, sengketa, dan permusuhan. Oleh karena itu, hendaknya semua orang harus berusaha untuk mempunyai akhlak terpuji. Akhlak namimah merupakan salah satu akhlak tercela yang paling buruk

Sebagai muslim, hendaknya sikap yang demikian itu dibuang jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari, sebab selain tercela dan juga mendapat dosa.

Rasulullah SAW mengingatkan kaum muslimin agar jangan melakukan namimah, karena namimah merupakan dosa besar. Untuk itu beliau bersabda :

 لا يدخل الجنة نمام (رواه البخارى و مسلم

Artinya :

“Tak akan bisa masuk surga orang yang suka melakukan namimah” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa ketika Rasulullah SAW melewati dua kuburan, beliau mendengar orang yang berada di dalamnya sedang disiksa oleh para malaikat. Lalu beliau bersabda pada para sahabat yang beserta beliau :

انهما يعذبان, وما يعذبان فى كبير (راى ذنب كبير) أما أحدهما يمشى بالنميمة, وأما الاخر فكان لا يستنزه من بوله (رواه البخارى و مسلم

Artinya :

“Keduanya sedang disiksa; mereka disiksa bukan karena melakukan dosa besar; yang pertama suka berbuat namimah dan yang kedua tidak pernah bersuci (cebok) setelah kencing” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

2.                 Contoh-contoh perilaku namimah

Sifat tercela namimah akan tampak pada sikap perilaku orang yang memilikinya.Contoh diantaranya :

  1. Perilaku tidak senang melihat orang lain hidup rukun dan damai
  2. Perilaku suka mencari kesalahan dan kelemahan orang lain
  3. Perilaku suka mengadu domba

3.                 Menghindari perilaku namimah dalam kehidupan sehari-hari

  1. Mengonfirmasi berita atau informasi kepada sumbernya yang benar
  2. Bersikap waspada terhadap setiap informasi
  3. Mebgisi waktu luang dengan kegiatan yang mendatangkan manfaat

4.  Terbiasa menghindari perilaku namimah di kehidupan sehari-hari

  1. Yakin dalam hati bahwa namimah merupakan akhlak yang tercela
  2. Tanamkan keyakinan dalam hati bahwa berakhlak namimah sama sekali tidak mendatangkan kebaikkan bahkanmengundang malapetaka bagi pelaku dan korban
  3. Isilah waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat dan menghindari mengunjing atau membicarakan aib dan kesalahan orang lain.
  4. Mulailah mambiasakan diri menghindari sikap tercela namimah dari yang termudah, sehingga menjadi kebiasaaan baik di kemudian hari
  5. Berdo’alah kepada Allah SWT. Agar mendapat kekuatan dalam membiasakan diri menghindari sikap tercela namimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s